Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label nasihat

A Reflection on a Journey - Memaknai Sebuah Perjalanan -

Human beings can never be separated from journeys. Whether it is a physical journey, meaning moving from one place to another, or a journey in the meaning of a process. Various processes in life are often associated with the word "journey," such as the pursuit of higher education, the path to financial freedom, the journey to marriage, or even the transition from one phase of life to the next with our loved ones. Over the past two years, I have undertaken more diverse physical journeys. Flying between cities, even across continents. Nowadays, I travel more frequently as well, since I work in a different city from where I live. These physical journeys often create a temporary distance from my loved ones, expose me to various sights along the way, and allow me to meet new people at my destinations. Sometimes, while travelling, I also reflect on the journey of life itself. Life is a journey. That is a phrase people often say. Islam also likens human beings in this world to trave...

Kang Emil, Eril, dan Amalan-Amalan Rahasia.

Pak Jhon masih sibuk memasak bakmi jawa yang kami pesan. Sambil menunggu pesanan datang, kami mengobrol banyak hal. Hingga salah seorang di antara kami yang bermain dengan gawainya berkata; “Eh, jenazahnya Eril ditemukan!”. Langsung saja kami mengucapkan tahmid bersama. Mensyukuri sebuah berita tentang pertemuan -yang sejatinya perpisahan. Kabar tenggelamnya Emmeril Khan Mumtadz (Eril) rahimahullah di Sungai Aare, Kota Bern, Swiss, memang menjadi berita yang selalu dibicarakan masyarakat sejak 26 Mei 2022 lalu. Semenjak hilangnya Eril, publik dibuat berharap-harap cemas bersama tentang kondisi putra orang nomor wahid di Jawa Barat ini. Setiap hari berita yang muncul di YouTube seputar pencarian Eril. Instagram pun tak mau ketinggalan menampilkan memori-memori tentang Eril. Hingga puncaknya, pada 2 Juni, Ibu Atalia melepas kepergian Eril disusul dengan unggahan video dari Pak Ridwan Kamil menampilkan kertas kecil bertuliskan “In Loving Memory of Emmeril Khan Mumtadz” yang diikatkan pad...

Dia yang Teguh, Dia yang Tumbuh

Pappermint from Abu Nabat Afrizal Haris, dok pribadi. Pekan lalu sembari menikmati sore di sekolahan, mencoba berselancar di dunia maya mencari sesuatu yang barangkali dapat menambah semangat saya. Pencarian membawa saya pada channel YouTube Al Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzahullah.  Saya pribadi sebenarnya sangat jarang mengikuti kajian beliau secara daring, hanya beberapa kali melihat postingannya Irfan (teman di kampus) yang isinya ceramah singkat beliau.   Melihat beberapa judul video pendek yang menarik, saya unduh beberapa di antaranya, lalu pulang. Haworthria -sejenis kaktus- menjadi teman saya mendengarkan untaian petuah beliau, hingga pada ucapan yang beliau nukil dari Syaikh Ushaimi hafidzahullah : Man tsabata nabata, jika  diterjemahkan kurang lebih artinya “Barangsiapa yang kokoh, dia akan tumbuh”. Ustadz Nuzul Dzikri menyampaikan kalimat tersebut sebagai pesan agar kita konsisten dalam mengikuti kajian. Jika sudah mengikuti satu kaji...

Masing-masing Ada Haknya

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, ‘Mengapa keadaanmu seperti itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.’ Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai, Abu Darda’ berkata kepada Salman, ‘Makanlah, karena saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.’ Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, ‘Tidurlah!’ Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi kepadanya, ‘Tidurlah!’ Hingga pada akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah!’ Lalu me...

Ibarat Pohon

Sidr Tree, Pohon Bidara. Taman Nasional Baluran 2017, doc pribadi Bismillah. Siang ini di Masjid Pogung Dalangan (MPD) khutbah Jumat disampaikan oleh Ustadz Afifi Abdul Wadud hafidzahullah. Dengan suara yang lantang tetapi tidak berlebihan, beliau menyampaikan khutbah dalam waktu yang tidak lama. Suara yang   lantang dan durasi khutbah yang tidak lama menurut saya mempunyai poin plus, yaitu mencegah jamaah tertidur. Ustadz Afifi setelah menyampaikan muqadimah, beliau langsung menyampaikan inti khutbah yang sangat indah. Saya tidak dapat menyampaikan secara detail apa yang beliau sampaikan, tapi takmir MPD tadi memasang gawai untuk merekam beliau, semoga ada waktunya dibagikan pada khalayak ramai atau minimal boleh kita minta, hehe. Poin khutbah beliau kurang lebih seperti berikut: Bahwasannya yang paling berharga dalam hidup kita adalah keimanan, karena keimanan kepada Allah menghindarkan kita dari kekalnya siksa neraka. Sedang yang paling bernilai dalam hidup ditengah ...

Berbagi Meski Sedikit

Unknown Flower Memberi tidak harus menunggu mempunyai banyak materi. Yang sedikit pun juga dapat diberikan. Mungkin seperti itu kalimat yang dapat menggambarkan simbah pemilik kos-kosan ini (saya sembunyikan nama beliau). Simbah sering memberi makanan kepada saya dan teman-teman kos. Termasuk semalam. Ketika menjelang sholat isya, simbah memberi satu piring nasi dengan sayur oseng kacang tempe dan botok kepada saya dan Mas Milza. Ada cerita yang dapat saya ambil sebagai pelajaran. Saat simbah mengambilkan nasi untuk saya, beliau bertanya : “Mas Yono mau sayur botok?”, “boleh mbah” jawab saya. Beliau lalu mengambil satu bungkus dan kemudian menyisakan satu bungkus (mungkin untuk cucu beliau). Satu bungkus yang beliau ambil kemudian beliau bagi separo dengan saya sambil mengatakan “Separuh buat Mas, separuh buat saya ya Mas”. Saya mengiyakan, dan sebenarnya nggak pakai sayur botok pun ngga papa karena didapur masih ada sayur oseng kacang tempe yang mbah tawarkan diawal. Tapi ya sep...

Nasihat Ustadz #1

Foto oleh Rahmadiyono Widodo Bismillahirrahmaanirrahiim NASEHAT INDAH AL USTADZ YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS  ⛔ Jangan berharap kepada manusia, karena engkau kan kecewa.  Berharaplah kepada Allah, niscaya engkau tidak akan pernah kecewa.  👉 Manusia yang mulia adalah yang dia bangun disepertiga malam terakhir, kemudian meminta kepada Allah.  Jangan lewatkan waktumu untuk berbuat maksiat, karena tak tahu kapan ajalmu kan menjemput. Sehingga kematianmu menjadi su'ul khothimah. 🌿 Hidupmu di dunia ibarat satu hari atau setengah hari dibandingkan kehidupanmu di akherat kelak, persiapkanlah bekalmu, dan sebaik2 bekal adalah taqwa.  💰 Infakkanlah hartamu. Karena penyimpanan harta yang sesungguhnya adalah yang akan engkau bawa sampai mati, bukan yang engkau simpan untuk duniamu.  ⏳ Jangan engkau tunda pekerjaan pagimu untuk sore harimu, niscaya banyak pekerjaan yang akan engkau selesaikan.  ⏰ Aturlah waktumu seb...

Mengawali Malam Bersama Kalimatmu

Langit Menjelang Malam, foto oleh Rahmadiyono Widodo Bismillahirrahmaanirrahiim Merah saga langit sore perlahan hilang, Bintang pun mulai memperlihatkan sinarnya, Dan seruan untuk mendatangi rumahMU telah berkumandang, Senin Maghrib, 9 Jumadil Tsani 1436 H, masih saya jalani kegiatan dikampus meskipun hanya berupa diskusi tentang kelompok studi. Tidak ada niatan untuk berlama-lama dalam berdiskusi, karena Senin ba’da maghrib kemarin hati ini telah berikrar untuk mengunjungi tempat itu kembali. Sebuah tempat yang penting dalam perjalanan diri ini di Kota Pelajar. Masjid al Ikhlas, Karangbendo. Mungkin bagi rekan-rekan, masjid tersebut tak setenar masjid-masjid besar yang ada di Yogyakarta, tetapi ruangnya yang tidak begitu besar justru membuat hati rindu untuk bersua dengan saudara-saudara seiman disana. Tidak ada lampu-lampu hias diatas langit-langitnya, tidak ada mimbar besar disamping tempat sholat imam, dan tidak ada alat bernama “AC” didalamnya, yang ada ad...