Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label 2019

Seni Botani

Ahad lalu mengunjungi tempat baru. Bale Sangkring Space Art namanya. Sesuai namanya, tempat ini sering untuk ajang pameran seni. Pekan lalu, pameran dengan judul “Ragam Flora Indonesia” digelar di dalamnya. Sejak judul pameran dipublikasikan pada beberapa bulan yang lalu, saya memang sudah berniat untuk mengunjunginya, maklum saja, ada embel-embel biologinya soalnya. Sebanyak 66 spesies tumbuhan asli Indonesia dipamerkan dalam konsep yang sederhana, tapi mengena. Mengena untuk menunjukkan sisi sains flora asli Indonesia yang dipadukan dalam seni dua dimensi dengan apiknya. salah satu sisi pameran. dok pribadi Seni dan sains pertama kali saya kenal ketika semester satu perkuliahan. Kala itu saat praktikum biologi avertebrata. Gambar spesimen yang saya buat beberapa kali dikomentari, yang intinya kurang jelas. Ya saya kan bukan anak seni , kurang lebih seperti itu batin saya bergumam. Tapi saya pribadi sebenarnya mengakui kalau untuk keperluan mendesak, gambar untuk pendid...

Yang Sering Dilupakan

Udara terasa sejuk. Mentari pun belum terlihat meninggi kala saya pulang dari bandara setelah mengantar Yuda. Melaju dengan tidak terlalu cepat, Pogung langsung menjadi tujuan saya. Sabtu lalu, ada jadwal bersama kawan yang lain untuk menghadiri suatu acara. Sesampainya saya pada acara di Pogung Rejo, bertemulah saya dengan sosok yang baru kali pertama saya berjumpa dengan beliau. Teman-teman memanggil sosok berkacamata ini, Ustadz Ibnu Sutopo. Pada acara yang berlangsung hampir 1,5 jam ini, Ustadz Ibnu Sutopo ( hafidzahullah ) memberikan beberapa wejangan untuk kami. Salah satunya tentang teman-teman di kelas. Beliau menyampaikan, yang intinya: “ Teman di kelas itu kalau sakit jasadnya, kita langsung peduli (dengan menanyakan kabar, atau menjenguk). Tapi, kalau ada teman yang sakit hatinya, kenapa kita seringkali tidak peduli? Padahal baik sakit pada jasad maupun hati, sama-sama dapat berujung kematian. ” Saat di dalam kelas kita ada murid yang sakit hatiny...

Tentang Wanita Bernama Bunda

( Photo by  Rahmadiyono Widodo  on  Unsplash ) Kamis, tanggal 05 di bulan ini, bertemu dengan bayi yang lucu dan manis, panggil saja Ali. Dalam gendongan seorang wanita yang terlihat sudah memasuki usia senja, Ali tampak tenang. Tapi, dibalik tenangnya Ali, ternyata ia sudah tidak lagi mempunyai seorang ibu yang telah melahirkannya. Tujuh bulan yang lalu Ali lahir, dan pada hari yang sama, ibunya berpulang. Seperti yang sering kita dengar, seorang ibu akan memberikan apapun untuk anaknya, termasuk nyawa. Dan kisah Ali, menjadi pengingat bagi saya.  Kisah Ali ini juga  mengingatkan saya kepada seorang laboran di kampus saya dahulu. Nyawa menjadi hal yang beliau gadaikan saat melahirkan anak kembarnya. Berbicara tentang seorang ibu, saya punya kisah lainnya pula. Tentang seorang wanita yang telah renta. Mungkin usianya 80 tahunan. Nenek ini tengah sakit, kata seorang warga, beberapa hari sudah opname. Setelah diperbolehkan pulang, saya mampir ke rumah be...

Menyapa Pagi Masyarakat Pakem

Jalan Kaliurang terasa masih sepi, lebih sepi dari biasanya. Bukan tanpa sebab rasa ini ada, karena memang kemarin berangkat ke sekolah lebih pagi. Yang biasanya sekitar pukul 06:10, khusus Rabu kemarin sekitar pukul 05:40. Kenapa lebih pagi? Mau main ke pasar jawabnya, hehe. Sampai di sekolah, presensi, kemudian langsung lanjut ke pasar. Oya, lupa, ganti sendal dulu. Agak nggak nyaman kalau harus masuk pasar dengan mode seragam sekolah, celana kain hitam, lengkap dengan sepatu pantofel hitam, haha. Turun dari lantai 3, cek dompet, ternyata isi dompet hanya dua lembar uang berpeci hitam plus satu lembar goceng. Pengalaman kalau transaksi di pasar pakai uang besar biasanya pedagang ogah-ogahan. Minta nukerin uang dulu. Kata Indom*ret dan saudara-saudaranya yang langsung terlintas sebagai tempat penukaran uang. Tapi kayanya susah juga kalau cuma nukarin uang, kemungkinan bakal ditolak mbak-mbak kasir. Berpikir sejenak, ok, sekalian saja beli kebutuhan mandi yang sedang dibutuhkan. ...

Rizky dan Kartu Alfabetnya

dok pribadi Perpustakaan tiba-tiba menjadi tambah ramai. Seorang guru rupanya datang bersama empat siswa sekolah dasarnya. Semuanya kelas I. Saya pun bertanya pada beliau, apakah ini jam kunjungan perpustakaan? Bukan ternyata. Kali ini beliau memberi jam pelajaran khusus untuk siswa yang belum bisa membaca tepatnya. Mereka bersiap-siap memulai kegiatan, membuka buku bergaris, dan menyiapkan beberapa alat tulis. Dan saya, melanjutkan membaca.  Konsentrasi saya mulai terpecah diikuti sedikit senyuman karena melihat tingkahnya Rizky, salah satu siswa kelas I ini. Bukan tanpa sebab, karena Rizky ini tengah bersemangat mengeja huruf yang ada pada kartu alfabetnya, tapi yang ia eja bukanlah ejaan yang benar. Dari seluruh alfabet, sebenarnya Rizky sudah hafal banyak huruf. Hanya huruf W, V, D, J, G, E, F, dan Q. Yang paling berat adalah huruf E, jika ditunjukkan kartu "E", Rizky sering menyebutnya H. Huruf W sering tertukar dengan M, mungkin karena hanya "kebalikanny...

Jalanan dan Kematian

Helmnya Udri, pas di jalanan Lampung Barat. Dok pribadi Jika saya bertanya; “Apa saja penyumbang angka kematian tertinggi di dunia saat ini?”, apa jawaban Anda? Jawaban Anda mungkin Malaria, HIV, jantung, dan penyakit lainnya. Penyebab kematian di dunia secara umum adalah penyakit-penyakit, dengan penyakit jantung sebagai yang nomor wahid. Tapi tahukah Anda, di antara 10 penyebab kematian tertinggi di dunia, ada satu penyebab yang bukan merupakan penyakit? Berada pada posisi ke-8, kecelakaan lalu lintas menjadi penyebab kematian di luar kelompok penyakit. The Top 10 Causes of Deaths World Health Organization (WHO) merilis data rata-rata 1,35 juta manusia meninggal tiap tahunnya karena kecelakaan lalu lintas. Asia Tenggara menjadi wilayah dengan korban paling banyak nomor 2 di dunia dan pengguna sepeda motor menjadi penyumbang angka tertinggi . Saya pribadi pernah pula mengalami kecelakaan dengan sepeda motor, tahun 2014 tepatnya. Alhamdullilah, segala puji bagi Allah yang me...

septemBercerita

Sore ini sembari menyusuri ramai lancarnya jalan Solo-Jogja, tiba-tiba diri terbesit untuk kembali menulis. Sejak blog ini menetas di tahun 2014, baru ada 50 postingan. Jumlah yang teramat sedikit. Maklum sih , dulu membuat blog ini awalnya hanya sebagai syarat untuk menjadi anggota suatu organisasi. Begitu nomor anggota diperoleh, werrrrr , langsung melaju tidak menyentuh blog kembali, hehe. Tapi sesekali tetap nulis di blog juga, karena memang ada manfaatnya, minimal sebagai tempat cerita kepada diri sendiri, haha. Bicara soal cerita, dulu pernah ingin mengikuti semacam sayembara menulis cerita selama satu bulan full. Iming-imingnya hadiah berupa paket novel dan totebagnya. Karena saya tidak terlalu suka novel (meskipun di kosan punya juga novel, Negeri 5 Menara), saya tidak terlalu bersemangat untuk merealisasikan niat saya. Hasilnya? Ya tentu saja tidak jadi ikut. Tapi sore ini berasa pengen nulis kembali, bukan untuk hadiah, tapi untuk diri sendiri. Mumpung momennya pas juga, ...

Dia yang Teguh, Dia yang Tumbuh

Pappermint from Abu Nabat Afrizal Haris, dok pribadi. Pekan lalu sembari menikmati sore di sekolahan, mencoba berselancar di dunia maya mencari sesuatu yang barangkali dapat menambah semangat saya. Pencarian membawa saya pada channel YouTube Al Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri hafidzahullah.  Saya pribadi sebenarnya sangat jarang mengikuti kajian beliau secara daring, hanya beberapa kali melihat postingannya Irfan (teman di kampus) yang isinya ceramah singkat beliau.   Melihat beberapa judul video pendek yang menarik, saya unduh beberapa di antaranya, lalu pulang. Haworthria -sejenis kaktus- menjadi teman saya mendengarkan untaian petuah beliau, hingga pada ucapan yang beliau nukil dari Syaikh Ushaimi hafidzahullah : Man tsabata nabata, jika  diterjemahkan kurang lebih artinya “Barangsiapa yang kokoh, dia akan tumbuh”. Ustadz Nuzul Dzikri menyampaikan kalimat tersebut sebagai pesan agar kita konsisten dalam mengikuti kajian. Jika sudah mengikuti satu kaji...

Merindu MPD

Bismillah. Lantunan Al Quran masih terdengar dikala mentari mulai meninggi. Semangat orang di masjid ini seakan tak luntur meski Ramadan telah memasuki hari ke-28nya. Sejak hari pertama Ramadan saya jalani di masjid ini, baru shubuh ini mendengar kalimat “shaf sholat semakin maju”, pertanda jamaahnya mulai “sepi”. Namun, jika dibanding dengan jamaah di kampung saya, tentu jamaah di sini masih sangat lebih banyak. Sepinya masjid ini masih menyentuh angka 450 orang untuk jamaah sholat tahajud di 1/3 terakhir Ramadan. Ini bukan jumlah ketika malam 27 kemarin yang masya Allah ramainya. Pagi ini memang terasa lebih sepi, banyak jamaah yang mulai pergi untuk mudik ke kampung halaman masing-masing. Mudik sembari menyimpan rindu dan harap untuk bisa kembali ke masjid ini. Masjid ini memang terkenal membekaskan rindu pada hati jamaahnya yang notabene para mahasiswa dari UGM, UNY, maupun kampus-kampus lain di Yogyakarta. Pernah menunjukkan foto masjid ini kepada seorang kawan yang...

Malam Seorang Rimbawan

Pemasangan Mist Net untuk Pecincinan Burung. (dok pribadi) Malam ini selepas melihat dua pesawat melintas di atas kampung Pogung, terbesit ingin menulis tentang malam-malam yang mengesankan bagi saya. Bukan terkesan sebatas pada malam dengan bintang-bintangnya, tapi lebih kepada mereka yang menghidupkan malam. Mereka lah yang membuat saya terkesan. Saya, sebagaimana yang teman-teman tahu, adalah mahasiswa biologi yang identik dengan kegiatan lapangan atau di luar ruang, ya misalnya ke hutan, pantai, gunung, dan lainnya. Selain dilekatkan dengan kegiatan seperti itu, kami juga dilekatkan oleh beberapa orang yang menganggap anak lapangan itu anak yang sulit diatur, anak yang sukanya cuma main-main ke hutan, anak yang sukanya pagi siang jalan-jalan di hutan dan malamnya tidur hingga bangun terlambat menjadi kebiasaan. Saya tidak bisa menyalahkan saat ada segelintir orang yang beranggapan seperti itu. Bisa jadi karena mereka melihat orang atau mahasiswa bi...

Jantan Betina yang Terlihat Sama

Burung secara umum memiliki morfologik yang berbeda antara jantan dengan betina. Pengamat burung sering menyebut “yang jantan itu lebih cantik”, hehe. Argumen tersebut muncul bukan karena sebab, karena secara umum burung jantan memang mempunyai bulu yang lebih berwarna-warni, lebih menarik intinya. Salah satu fungsi dari bulu yang lebih berwarna pada jantan adalah untuk menarik perhatian betina ketika memasuki masa breeding atau berkembang biak. Istilah perbedaan morfologik tersebut disebut dimorfisme (“di” menunjukkan dua, morf: morfologik/bentuk luar). Akan tetapi, terdapat pula jenis-jenis burung yang mempunyai morfologik yang mirip antara jantan dan betina atau akrab disebut monomorfisme. Jenis burung yang masuk dalam kelompok monomorfisme membuat pengamat burung kesulitan untuk mengidentifikasi mana jantan dan mana betinanya. Burung pijantung kecil. Foto oleh Radhitya Anjar. Kiri betina, kanan jantan. Saat kita mengamati burung monomorfisme dengan cara biasa (hanya ...