Langsung ke konten utama

Postingan

Media Sosial

media sosial penuh dengan bayangan. begitu banyak nama samaran. yang terbagikan belum tentu yang terrasakan. tiap orang dengan mudah menutupi perasaan. yang terlihat senang sejatinya memendam kesedihan. yang nampak sedih, hanya mencari perhatian. yang dikira sombong, hatinya jauh dari gila pujian. lalu, apa tepat jika media sosial menjadi patokan? media sosial tak hanya tentang mereka yang kita perhatikan. tapi tentang diri sendiri yang serba kekurangan. yang seringkali jatuh dalam kelalaian. berselancar tak kenal waktu dan keadaan. tak pandai menjaga perkataan. dengan mudah memberi cibiran. semakin parah ditambah hujatan. media sosial tak sekadar tulisan. bukan hanya kumpulan unggahan. tapi ia bisa penuh kebermanfaatan. jika digunakan dalam kebajikan. dan dipadukan dengan kebijakan. satu lagi yang perlu kita camkan. media sosial bukan tempat untuk mencari kebahagiaan. With Mr. Fralian Pogung Dalangan. Rahmadiyono.

Mister, Apa Saya Naik Kelas?

Sore ini, beberapa menit sebelum matahari terakhir di bulan Ramadan tenggelam, seorang siswa mengirimkan pesan singkat: "Mr, apa saya naik kelas?". Sebuah pesan singkat yang justru membuat saya bertanya pada diri saya sendiri, "Apa saya juga "naik kelas" di Ramadan tahun ini?", sementara alpa masih menjadi teman diri ini. Telah habis waktu di tahun ini, sementara tahun depan entah menjumpai, ataukah tidak. senja di atas rumah bapak. Rumah Bapak, 1 Syawal 1441 H.

Ketika Masalah pun Terurai

Masjid Kampus UGM, 23 Februari 2020 (note: bukan tulisan saya) بسم الله الرحمن الرحيم Nikmat iman, nikmat Islam, nikmat taufik adalah nikmat-nikmat yang harus kita syukuri. Kemudian kita berlindung dari ilmu yang tidak bermanfaat, ilmu yang hanya menjadi goresan-goresan pena. Namun, tidak diejawantahkan dalam kehidupan. Dalam kehidupan, memiliki suatu masalah adalah hal yang positif (normal). Para nabi juga memiliki masalah (cobaan), bahkan termasuk yang paling berat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: اشر الناس بلاء الأنبياء ثم الصالحين ثم انفل ثم انفل “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang sholih, kemudian selanjutnya, kemudian setelahnya”. Semakin sholih seseorang, maka dia akan semakin dicoba. Dunia ini penuh dengan masalah. Kecilnya masalah tidak menentukan kebahagiaan kita. Apa buktinya? Buktinya adalah manusia yang paling bahagia adalah para Rasul, tetapi pada saat yang sama para rasul adalah orang yang paking...

Kenangan

Siapa? Bukan siapa-siapa dan tidak penting bagi banyak orang, tapi sangat berarti bagi sebagian orang. Kenapa diunggah di sini? Suka foto ini. Sangat dalam. Kenapa? Karena beliau menjadi salah satu sebab lahirnya orang baik di bumi ini. Siapa nama beliaunya? Tidak tahu. Di mana beliaunya? Semoga berada di sebaik-baik tempat bersama rahmat Allah. ..... Hari dua belas bulan satu. Kamar ujung wisma IB.

Sesederhana Anak TK

Ruang dengan alas warna warni kali ini berubah dengan tawa setelah sebelumnya petuah dari ketua yayasan menjadikan para peserta diam mendengarkan. Divisi edukasi yayasan dengan metode groupingnya menjadikan acara Jumat sore ini menjadi lebih cair. Para peserta yang notabene adalah guru dan staf dikelompokkan dalam kelompok kecil beranggotakan sekitar tujuh orang. Setiap kelompok harus menyampaikan tiga fakta unik sesuai topik yang didapat. Ada topik tentang guru, siswa, hingga para orang tua siswa (otm).  Kelompok pertama menyampaikan fakta unik tentang guru dan siswa. Cukup unik, bagi sebagian peserta. Yang lain? Masih terlihat biasa-biasa saja raut wajahnya. Lanjut ke kelompok dua. Tawa semakin pecah ketika fakta unik tentang guru yang disampaikan justru terlihat seperti edisi curhat oleh si juru bicara. Tiap kelompok menyampaikan hasil diskusi mereka, hingga pada kelompok terakhir. Para ibu guru play-group taman kanak-kanak (PGTK) yang mendominasi isi kelompok. Saat masuk pe...

Seni Botani

Ahad lalu mengunjungi tempat baru. Bale Sangkring Space Art namanya. Sesuai namanya, tempat ini sering untuk ajang pameran seni. Pekan lalu, pameran dengan judul “Ragam Flora Indonesia” digelar di dalamnya. Sejak judul pameran dipublikasikan pada beberapa bulan yang lalu, saya memang sudah berniat untuk mengunjunginya, maklum saja, ada embel-embel biologinya soalnya. Sebanyak 66 spesies tumbuhan asli Indonesia dipamerkan dalam konsep yang sederhana, tapi mengena. Mengena untuk menunjukkan sisi sains flora asli Indonesia yang dipadukan dalam seni dua dimensi dengan apiknya. salah satu sisi pameran. dok pribadi Seni dan sains pertama kali saya kenal ketika semester satu perkuliahan. Kala itu saat praktikum biologi avertebrata. Gambar spesimen yang saya buat beberapa kali dikomentari, yang intinya kurang jelas. Ya saya kan bukan anak seni , kurang lebih seperti itu batin saya bergumam. Tapi saya pribadi sebenarnya mengakui kalau untuk keperluan mendesak, gambar untuk pendid...

Yang Sering Dilupakan

Udara terasa sejuk. Mentari pun belum terlihat meninggi kala saya pulang dari bandara setelah mengantar Yuda. Melaju dengan tidak terlalu cepat, Pogung langsung menjadi tujuan saya. Sabtu lalu, ada jadwal bersama kawan yang lain untuk menghadiri suatu acara. Sesampainya saya pada acara di Pogung Rejo, bertemulah saya dengan sosok yang baru kali pertama saya berjumpa dengan beliau. Teman-teman memanggil sosok berkacamata ini, Ustadz Ibnu Sutopo. Pada acara yang berlangsung hampir 1,5 jam ini, Ustadz Ibnu Sutopo ( hafidzahullah ) memberikan beberapa wejangan untuk kami. Salah satunya tentang teman-teman di kelas. Beliau menyampaikan, yang intinya: “ Teman di kelas itu kalau sakit jasadnya, kita langsung peduli (dengan menanyakan kabar, atau menjenguk). Tapi, kalau ada teman yang sakit hatinya, kenapa kita seringkali tidak peduli? Padahal baik sakit pada jasad maupun hati, sama-sama dapat berujung kematian. ” Saat di dalam kelas kita ada murid yang sakit hatiny...