Langsung ke konten utama

Postingan

Merindu MPD

Bismillah. Lantunan Al Quran masih terdengar dikala mentari mulai meninggi. Semangat orang di masjid ini seakan tak luntur meski Ramadan telah memasuki hari ke-28nya. Sejak hari pertama Ramadan saya jalani di masjid ini, baru shubuh ini mendengar kalimat “shaf sholat semakin maju”, pertanda jamaahnya mulai “sepi”. Namun, jika dibanding dengan jamaah di kampung saya, tentu jamaah di sini masih sangat lebih banyak. Sepinya masjid ini masih menyentuh angka 450 orang untuk jamaah sholat tahajud di 1/3 terakhir Ramadan. Ini bukan jumlah ketika malam 27 kemarin yang masya Allah ramainya. Pagi ini memang terasa lebih sepi, banyak jamaah yang mulai pergi untuk mudik ke kampung halaman masing-masing. Mudik sembari menyimpan rindu dan harap untuk bisa kembali ke masjid ini. Masjid ini memang terkenal membekaskan rindu pada hati jamaahnya yang notabene para mahasiswa dari UGM, UNY, maupun kampus-kampus lain di Yogyakarta. Pernah menunjukkan foto masjid ini kepada seorang kawan yang...

Malam Seorang Rimbawan

Pemasangan Mist Net untuk Pecincinan Burung. (dok pribadi) Malam ini selepas melihat dua pesawat melintas di atas kampung Pogung, terbesit ingin menulis tentang malam-malam yang mengesankan bagi saya. Bukan terkesan sebatas pada malam dengan bintang-bintangnya, tapi lebih kepada mereka yang menghidupkan malam. Mereka lah yang membuat saya terkesan. Saya, sebagaimana yang teman-teman tahu, adalah mahasiswa biologi yang identik dengan kegiatan lapangan atau di luar ruang, ya misalnya ke hutan, pantai, gunung, dan lainnya. Selain dilekatkan dengan kegiatan seperti itu, kami juga dilekatkan oleh beberapa orang yang menganggap anak lapangan itu anak yang sulit diatur, anak yang sukanya cuma main-main ke hutan, anak yang sukanya pagi siang jalan-jalan di hutan dan malamnya tidur hingga bangun terlambat menjadi kebiasaan. Saya tidak bisa menyalahkan saat ada segelintir orang yang beranggapan seperti itu. Bisa jadi karena mereka melihat orang atau mahasiswa bi...

Jantan Betina yang Terlihat Sama

Burung secara umum memiliki morfologik yang berbeda antara jantan dengan betina. Pengamat burung sering menyebut “yang jantan itu lebih cantik”, hehe. Argumen tersebut muncul bukan karena sebab, karena secara umum burung jantan memang mempunyai bulu yang lebih berwarna-warni, lebih menarik intinya. Salah satu fungsi dari bulu yang lebih berwarna pada jantan adalah untuk menarik perhatian betina ketika memasuki masa breeding atau berkembang biak. Istilah perbedaan morfologik tersebut disebut dimorfisme (“di” menunjukkan dua, morf: morfologik/bentuk luar). Akan tetapi, terdapat pula jenis-jenis burung yang mempunyai morfologik yang mirip antara jantan dan betina atau akrab disebut monomorfisme. Jenis burung yang masuk dalam kelompok monomorfisme membuat pengamat burung kesulitan untuk mengidentifikasi mana jantan dan mana betinanya. Burung pijantung kecil. Foto oleh Radhitya Anjar. Kiri betina, kanan jantan. Saat kita mengamati burung monomorfisme dengan cara biasa (hanya ...

Atraksi Terik Asia di Pinggiran Jogja

Sore (04/3) jadi salah satu sore paling tidak saya sangka dalam dunia “Perburungan Pogung Dalangan”, hehe. Bagaimana tidak? Setelah sekian lama mencatat jenis-jenis burung yang ada di Pogung Dalangan, kemarin sore bisa nambah satu jenis yang tidak pernah terbesit. Shorebirds atau burung pantai, tepatnya jenis Terik asia (Oriental Pratincole/ Glareola maldivarum ) dari suku Glareolidae. Terik asia adalah salah satu jenis burung pantai migran yang habitat aslinya di Asia timur. Ketika terjadi musim dingin di habitat aslinya, mereka akan bermigrasi ke kawasan tropis seperti Indonesia hingga Australia. Sebelumnya, saya hanya menjumpai jenis ini di kawasan pesisir dan dengan jumlah maksimal dua individu tiap perjumpaan. Namun, kemarin sore berbeda. Dari segi lokasi, saya menjumpai di kawasan pinggiran perkotaan padat penduduk yang cukup jauh dari garis pantai. Kemudian dari segi jumlah, saya mencatat sekitar 70 individu dalam satu flock . Flock Terik asia di atas Pogung Dalangan. Dok...

Blog, Burung, dan Bionic

Januari tahun ini mungkin menjadi bulan yang tidak akan dilupakan oleh adik-adik tingkat saya di kampus. Bagaimana tidak? Saat hampir seluruh kampus di Yogyakarta memberi jatah liburan semester gasal kepada mahasiswanya lebih dari satu bulan, adik-adik tingkat saya mau tidak mau harus memaksa diri mereka liburan hanya dalam tempo dua pekan. Semester genap sudah di depan mata, tanggal 28 besok menjadi hari pertamanya. Banyak adik tingkat saya yang bergerilya mempersiapkan bekal sesuai jenjang semester masing-masing. Bagi mereka yang hendak melangkah memasuki semester ke-2, libur semester ini menjadi waktu yang sibuk untuk mempersiapkan perkuliahan sekaligus mendaftar organisasi. Dahulu saya juga menjalani fase seperti mereka. Semester 2 tahun 2014 saya diterima sebagai staff di Himpunan Mahasiswa Biologi. Pada semester yang sama, saya juga menjadi calon anggota unit kegiatan mahasiswa KPB Bionic yang berfokus pada pengamatan burung dan pelestariannya. Berpredikat sebagai calon ang...

Sarjana Burung Baluran, S.Pd.

Sarjana Burung? Burung Baluran? S.Pd? Eh, tulisan ini mau ke mana sih sebenarnya? Haha. Sarjana Burung Bionic alumni Mbolang Baluran Ok teman-teman, jadi sebagai pengantar bisa lihat foto di atas ya dan tulisan ini bukan tentang burung di Taman Nasional Baluran Jawa Timur ya, tapi hanya sebuah cerita dan sedikit ulasan dari produk tugas akhir saya dan dua sohib yang dulu pernah mbolang ke Baluran selepas dari konferensi di Bali. Sebenarnya ke Baluran berempat sih, tapi karena si Arif bukan anak “Berpendidikan” (soalnya dia Biologi murni, haha) jadi nggak saya ulas deh tugas akhirnya di sini (sebenarnya juga karena saya nggak paham dunia peranggrekan yang dia jadikan tugas akhir). KPPBI 3, Ketika belum 70 kg. Tahun 2017 awal, saya, Andri “Hoho” Nugroho, dan Ratih “Rade” Dewanti, dan Ahmad Arif alhamdulillah diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian kami di Universitas Udayana Bali. Andri presentasi tentang edukasi anak-anak SMA terkait burung-b...