Langsung ke konten utama

Postingan

Blog, Burung, dan Bionic

Januari tahun ini mungkin menjadi bulan yang tidak akan dilupakan oleh adik-adik tingkat saya di kampus. Bagaimana tidak? Saat hampir seluruh kampus di Yogyakarta memberi jatah liburan semester gasal kepada mahasiswanya lebih dari satu bulan, adik-adik tingkat saya mau tidak mau harus memaksa diri mereka liburan hanya dalam tempo dua pekan. Semester genap sudah di depan mata, tanggal 28 besok menjadi hari pertamanya. Banyak adik tingkat saya yang bergerilya mempersiapkan bekal sesuai jenjang semester masing-masing. Bagi mereka yang hendak melangkah memasuki semester ke-2, libur semester ini menjadi waktu yang sibuk untuk mempersiapkan perkuliahan sekaligus mendaftar organisasi. Dahulu saya juga menjalani fase seperti mereka. Semester 2 tahun 2014 saya diterima sebagai staff di Himpunan Mahasiswa Biologi. Pada semester yang sama, saya juga menjadi calon anggota unit kegiatan mahasiswa KPB Bionic yang berfokus pada pengamatan burung dan pelestariannya. Berpredikat sebagai calon ang...

Sarjana Burung Baluran, S.Pd.

Sarjana Burung? Burung Baluran? S.Pd? Eh, tulisan ini mau ke mana sih sebenarnya? Haha. Sarjana Burung Bionic alumni Mbolang Baluran Ok teman-teman, jadi sebagai pengantar bisa lihat foto di atas ya dan tulisan ini bukan tentang burung di Taman Nasional Baluran Jawa Timur ya, tapi hanya sebuah cerita dan sedikit ulasan dari produk tugas akhir saya dan dua sohib yang dulu pernah mbolang ke Baluran selepas dari konferensi di Bali. Sebenarnya ke Baluran berempat sih, tapi karena si Arif bukan anak “Berpendidikan” (soalnya dia Biologi murni, haha) jadi nggak saya ulas deh tugas akhirnya di sini (sebenarnya juga karena saya nggak paham dunia peranggrekan yang dia jadikan tugas akhir). KPPBI 3, Ketika belum 70 kg. Tahun 2017 awal, saya, Andri “Hoho” Nugroho, dan Ratih “Rade” Dewanti, dan Ahmad Arif alhamdulillah diberi kesempatan untuk mempresentasikan hasil penelitian kami di Universitas Udayana Bali. Andri presentasi tentang edukasi anak-anak SMA terkait burung-b...

terima kasih, guru

Terkadang seseorang datang kepadamu bukan untuk menjadi seperti teman kelas yang membersamaimu sejak masuk hingga pulang sekolah. Adakalanya seseorang yang datang kepadamu menjadi seperti guru mata pelajaran. Ia datang untuk mengajarimu akan banyak hal. Ia datang tidak untuk membersamaimu dalam waktu yang lama. Ia datang untuk menjadikanmu lebih berwawasan, lebih dewasa, dan lebih bijak. Saat semua pelajaran telah tersampaikan, ia akan pergi, berpisah denganmu. ... Dan kau seperti guru. Hadirmu singkat, tapi membawakan banyak wawasan. Terima kasih telah menjadi salah satu guruku, kawan. --- Mendung di bumi Pogung, hari sepuluh bulan sebelas (2018). trinil semak di pantai 36.

Masing-masing Ada Haknya

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman bertandang (ziarah) ke rumah Abu Darda’, ia melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan mengenakan pakaian yang serba kusut. Salman pun bertanya padanya, ‘Mengapa keadaanmu seperti itu?’ Wanita itu menjawab, ‘Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak mempunyai hajat lagi pada keduniaan.’ Kemudian Abu Darda’ datang dan ia membuatkan makanan untuk Salman. Setelah selesai, Abu Darda’ berkata kepada Salman, ‘Makanlah, karena saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau pun makan.’ Abu Darda’ pun makan. Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam. Salman pun berkata padanya, ‘Tidurlah!’ Abu Darda’ pun tidur kembali. Ketika Abu Darda’ bangun hendak mengerjakan shalat malam, Salman berkata lagi kepadanya, ‘Tidurlah!’ Hingga pada akhir malam, Salman berkata, ‘Bangunlah!’ Lalu me...

Ibarat Pohon

Sidr Tree, Pohon Bidara. Taman Nasional Baluran 2017, doc pribadi Bismillah. Siang ini di Masjid Pogung Dalangan (MPD) khutbah Jumat disampaikan oleh Ustadz Afifi Abdul Wadud hafidzahullah. Dengan suara yang lantang tetapi tidak berlebihan, beliau menyampaikan khutbah dalam waktu yang tidak lama. Suara yang   lantang dan durasi khutbah yang tidak lama menurut saya mempunyai poin plus, yaitu mencegah jamaah tertidur. Ustadz Afifi setelah menyampaikan muqadimah, beliau langsung menyampaikan inti khutbah yang sangat indah. Saya tidak dapat menyampaikan secara detail apa yang beliau sampaikan, tapi takmir MPD tadi memasang gawai untuk merekam beliau, semoga ada waktunya dibagikan pada khalayak ramai atau minimal boleh kita minta, hehe. Poin khutbah beliau kurang lebih seperti berikut: Bahwasannya yang paling berharga dalam hidup kita adalah keimanan, karena keimanan kepada Allah menghindarkan kita dari kekalnya siksa neraka. Sedang yang paling bernilai dalam hidup ditengah ...

Jangan Lupa Bersyukur

Ahad malam lalu saya sholat maghrib di Masjid Al Hasanah, depan fakultas MIPA UGM. Saat iqomah, jamaah sudah mulai merapikan shaf sholat. Malam itu saya berada dibelakang seorang anak yang mungkin usianya 13 tahunan. Ada kalimat yang membuat saya tersenyum sesaat sebelum imam menyuarakan takbiratul ihram. Dicetak diatas kaos hitamnya dengan latar belakang harimau, kalimat itu berbunyi : " Do not blame God for having created the tiger, but thank Him for not having given it wings. " Harimau memang menjadi momok tersendiri di beberapa negara. Cukup banyak konflik antara manusia dengan harimau, entah karena harimau memangsa ternak mereka, atau memangsa manusia itu sendiri. Hal itu membuat banyak manusia marah bahkan sampai menyalahkan Sang Pencipta. Harimau memangsa ternak memang bisa dikatakan merugikan, tapi bagaimana jika dia diciptakan dengan sayap? Mungkin dia akan lebih leluasa memangsa ternak (dan manusia) hingga menyebabkan kerugian yang lebih besar. Maka, kenapa kita t...

Antara Hujan dan Pasar

foto oleh: Rahmadiyono Widodo Rintik hujan datang semakin deras seiring bertambahnya menit setelah pukul lima pagi ini. 30 menit, hujan belum berhenti, tetap turun bersama rahmat dari Allah Yang Mahakuasa. 8 menit setelahnya, tidak ada perubahan yang berarti, membuat saya memutuskan untuk keluar kos menggunakan mantel merah marun itu. Pagi ini, seperti pagi-pagi yang telah lalu dalam tiga pekan ini, saya memiliki rutinitas baru, ke pasar. Mencoba mencari rezeki yang telah disebar untuk biaya mencetak produk tugas akhir yang saya yakin tidaklah cukup dengan selembar uang berwarna biru, bahkan merah bersongkok. Menyusuri jalanan di tepi UGM dan UNY lantas berpindah ke jalan Affandi. Hujan semakin menjadi saat saya melewati lampu merah Gejayan yang terkenal dengan polisi yang super ketat itu. Melaju lebih pelan karena jalanan dipadati orang-orang menuju pasar. Dan, seketika memori sembilan tahun yang lalu datang kala mata ini melihat pasar dalam hujan. Sembilan tahun yang lalu mas...