Langsung ke konten utama

Postingan

Ketika Kupu-Kupu Memikat Burung

Burung-madu kelapa betina menghampiri bunga kupu-kupu Burung sebagai makhluk hidup, keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari makhluk yang lain. Terutama pohon. Jika mengatakan tentang pohon dan burung, seringkali yang terlintas dalam benak adalah pohon adalah rumah burung, tempat membangun sarang. Yap, betul sekali tetapi tidak mutlak. Kenapa? Karena kenyataannya memang banyak burung yang bersarang tidak pada pohon. Ada yang di tanah, tebing, atap-atap rumah, bahkan antena TV, hehe. OK, kembali ke bahasan pohon. Pohon memberikan banyak manfaat bagi burung, selain tempat bersarang, pohon juga menjadi tempat istirahat dan mencari makan baik dari bagian pohon itu secara langsung (misalnya buah) atau bukan dari bagian pohon (misalnya serangga yang hidup didalam batang). Banyak sekali pohon yang menjadi sumber makanan burung atau sering disebut sebagai pohon pakan. Pohon-pohon pakan tersebar luas dari hutan dataran tinggi hingga perkotaan. Setiap pohon yang tumbuh ditempat yang berbed...

Menanam Benih Konservasi Medini

Sabtu, 10 Desember 2016, perjalanan baru dimulai. Berboncengan dengan Mas Afrizal Maula Alfarisi (KP3 Burung UGM), diri ini menyusuri jalan dari Jogja untuk sampai ditempat tujuan, Medini kabupaten Kendal. Awalnya kami melewati jalan raya hingga Jl. Secang-Magelang, kemudian kami memilih melewati jalan pedesaan setelahnya. Jujur saja, ini salah satu perjalanan yang tidak membosankan bagi saya meskipun berkendara lebih dari 3 jam. Bagaimana tidak membosankan ketika selepas melewati Magelang, diri ini dimanjakan oleh lanskap yang memesona. Bukit, ladang, sawah, aliran sungai, ditemani dengan cerahnya langit biru. Adakalanya ketika melewati perbukitan, awan dan kabut menyelimuti, menutup birunya langit. Salah satu lanskap yang bisa dinikmati menuju Medini. Waktu menunjukkan hampir sore. Papan bertuliskan “Medini” mulai terlihat, pertanda kami segera sampai lokasi. Jalan semakin menanjak. Biasanya motor saya mampu untuk melewati jalan menanjak, tapi ketika hendak sampai Medini, jala...

Pesona Sabuk Hijau Pesisir Utara Jawa

Dibawah permukaan air yang dangkal, seekor ikan menampakkan kepalanya. Tubuh dan ekornya perlahan muncul hingga batas permukaan air. Sepasang sirip didekat kepala membantunya merayap meninggalkan perairan menuju hamparan lumpur. Ia kemudian berhenti bergerak hingga terlihat jelas bintik-bintik biru ditubuhnya, tiba-tiba, sirip dibagian punggungnya menaik bagaikan layar sebuah kapal. Ikan dengan bentuk dan tingkah laku ini dikenal dengan nama ikan glodok. Ikan glodok termasuk salah satu ikan yang hidup di perairan berlumpur. Akan tetapi, bukan sembarang perairan berlumpur. Ikan glodok hidup di perairan berlumpur dengan kadar garam yang cukup tinggi. Salah satu tempat hidup ikan glodok adalah kawasan mangrove. Kawasan mangrove sejatinya tidak hanya menawarkan pesona ikan glodok, masih banyak pesona yang disajikan dalam kawasan yang sering disebut dengan sabuk hijau ini. Untuk menikmati pesona kawasan mangrove umumnya dilakukan kegiatan yang disebut dengan tracking mangrove. Trac...

#InovasiDaerahku "Sukunan Kampung Pendidikan Lingkungan"

Sampah sudah menjadi sesuatu yang tidak asing dalam kehidupan manusia. Seiring dengan perkembangan zaman, dari tahun ke tahun, jumlah sampah semakin meningkat. Akan tetapi, bertambahnya jumlah sampah tidak diimbangi dengan bertambahnya kesadaran dalam pengelolaan sampah. Masih sangat banyak masyarakat Indonesi, terutama di Pulau Jawa sebagai pulau dengan kepadatan penduduk tertinggi di Indonesia, membuang sampah secara sengaja ditempat-tempat yang sesungguhnya bukan tempat pembuangan sampah. Hal ini tidak hanya berlaku pada daerah perkotaan di Pulau Jawa, bahkan pada daerah pesisir pun yang dikenal sebagai daerah yang masih asri lingkungannya, masyarakat mulai membuang sampah sembarangan yang akibatnya tidak hanya tanah yang tercemar, laut pun juga menjadi tempat untuk sampah berserakan. Masih sangat banyak masyarakat yang tidak menyadari bahaya dari membuang sampah sembarang. Akan tetapi, masih dapat dijumpai masyarakat yang sadar akan bahaya dari sampah dan bersemangat untuk melak...

Capung-batu merah-jambu (Rhinocypha fenestrata fenestrata)

C apung-batu merah-jambu jantan ( Rhinocypha fenestrata fenestrata ), foto oleh Rahmadiyono Widodo Capung-batu merah-jambu jantan ( Rhinocypha fenestrata fenestrata ) di daerah aliran sungai Gajah Wong Yogyakarta mudah untuk dijumpai pada musim kemarau. Seperti yang terlihat pada foto diatas, capung-batu merah-jambu jantan ( Rhinocypha fenestrata fenestrata ) mempunyai mata majemuk berwarna hitam dan sinthoraks berwarna hitam dengan warna biru pada sisi samping dan warna merah muda pada sisi atas. Rahadi (2013) dalam buku  Naga Terbang Wendit  menyebutkan warna sayap capung-batu merah-jambu jantan ( Rhinocypha fenestrata fenestrata ) adalah hitam dengan pangkal sayap berwarna coklat. Capung-batu merah-jambu ( Rhinocypha fenestrata fenestrata ) mempunyai kebiasaan hinggap diranting dekat perairan dan sensitif terhadap kehadiran manusia (Rahadi, 2013). Akan tetapi, saat pengamatan di daerah aliran sungai Gajah Wong Yogyakarta, capung-batu merah-ja...